Bocah Desa Banjarangkan Menjadi Korban Rabies

  • 08 Maret 2016
  • Dibaca: 581 Pengunjung
Bocah Desa Banjarangkan Menjadi Korban Rabies
Wabah rabies akibat kasus gigitan anjing di Banjarangkan kembali menelan korban nyawa, Senin (7/3/2016) pagi. Korbannya adalah AA Gede Yoga Arimbawa, 9, bocah yang tinggal di Banjar Koripan Tengah, Desa Banjarangkan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Bocah Kelas IV SDN 2 Banjarangkan ini merupakan korban meninggal kedua akibat dugaan rabies di Bali tahun 2016.
 
Bocah AA Gde Yoga Arimbawa menghembuskan napas terakhir di ruang perawatan RSUD Klungkung di Semarapura, Senin pagi sekitar pukul 06.30 Wita. Sebelum meregang nyawa, bocah berusia 9 tahun ini sempat selama dua hari dirawat di rumah sakit, sejak Minggu (6/3) pagi. Korban dirawat di rumah sakit dengan gejala lauaknya suspect rabies, seperti takut melihat air, takut dengan sinar, takut terhadap keramaian, hingga mengamuk.
 
Korban AA Gde Yoga Arimbawa yang diduga meninggal karena wabah rabies ini merupakan anak sulung dari dua bersaudara keluarga pasangan AA Putrawan, 40, dan Ni Wayan Suarnita alias Jro Seruli, 30. Sang ayah, AA Putrawan kesehariannya bekerja sebagai karwayan perusahaan pembuat roti di Denpasar, sementara Jro Seruli kerja di laundry.
 
Informasi di lapangan, bocah malang ini sebelumnya sempat dua kali digigit anjing liar dalam kurun 2 bulan terakhir. Pertama, digigit anjing di Pasar Banjarangkan, sekitar 2 bulan silam. Kala itu, korban tergigit di bagian kaki. Sayangnya, bocah malang ini tidak pernah melapor kepada orangtuanya doal gigitan anjing yang pertama itu.
 
Kemudian, sekitar dua pekan lalu, bocah AA Yoga Arimbawa kembali digigit anjing di Gang Sriti sekitar 200 meter sebelah timur rumahnya di Banjar Koripan Tengah, Desa Banjarangkan. Kali ini, korban tergigit anjing di bagian kaki. Saat musibah terjadi, tengah asyik bersepeda bersama teman-temannya. 
 
Karena luka gigitan anjing waktu itu tidak terlalu parah, korban AA Yoga Arimbawa juga lagi-lagi tidak melapor kepada orangtuanya. Sampai akhirnya kedua orangtua korban, pasutri AA Putrawan dan Jro Seruli, mengetahui kalau anaknya digigit anjing melalui teman sepermainannya. Kala itu, kondisi kesehatan bocah malang ini sudah drop, di mana korban mulai diserang panas tinggi.
 
Korban AA Yoga Arimbawa mulai menunjukkan tanda-tanda tidak wajar, sejak Kamis (3/3) lalu. Saat itu, kondisi tubuhnya sudah panas, lalu diberikan obat penurun panas. Anehnya, saat itu korban mulai menunjukkan gelagat mencurigakan, seperti kejengat-kejengit (kenyir-kenyir) sendiri. 
 
Dua hari kemudian, Sabtu (5/3) dinihari, bocah AA Yoga Arimbawa yang hobi sepakbola, sempat menonton siaran tunda Real Madri vs Celta Vigo di televisi. Dia menonton pertandingan yang dimenangkan Real Madrid 7-1 itu dengan didampingi ayahnya, AA Putrawan.
 
Keesokan harinya, Minggu (6/3) pagi sekitar pukul 06.00 Wita, korban tiba-tiba takut dengan sinar, takut air hingga tidak bisa minum air, meskipun haus. Lantas beberapa jam kemudian, kondisinya tambah parah di mana korban mulai kejang-kejang. Itu sebabnya, bocah malang ini langsung dibawa orangtuyanya ke IGD RSUD Klungkung, Minggu pagi pukul 09.00 Wita.
 
Bagitu keluar dari ruangan IGD RSUD Klungkung, bocah AA Yoga Arimbawa sudah tidak bisa berjalan. Saat itu pula, korban harus dibopong oleh ayahnya untuk masuk ke ruang perawatan RSUD Klungkung. Selama dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, bocah SD ini menunjukkan gejala terserang rabies: takut air, takut sinar, takut keramaian, hingga ngamuk-ngamuk.
 
Sampai akhirnya bocah AA Yoga Arimbawa dinyatakan meninggal dunia, Senin pagi pukul 06.30 Wita. Kemudian, jenazah bocah malang ini dipulangkan ke rumah duka di Banjar Koripan Tengah, Desa Pakraman Banjarangkan, Klungkung, Senin pagi pukul 09.00 Wita. Kemudian, jenazah korban dugaan rabies ini dimakamkan keluarganya di Setra Desa Pakraman Banjarangkan pada Soma Umanis Pujut, Senin sore pukul 17.00 Wita.
 
Sementara, petugas medis dari Puskesmas Banjarangkan II, I Nyoman Arjana, yang kemarin mewakili lembaganya melayat ke rumah duka, membenarkan kalau bocah AA Yoga Arimbawa menuinggal dengan gejala-gejala suspect rabies. “Selama menjalani perawatan di rumah sakit, pasien menunjukkan gejala suspect rabies,” cerita Nyoman Arjana.
 
Hanya saja, menurut Arjana, pihaknya sampai saat ini belum berani memastikan kalau bocah malang tersebut tewas karena positif rabies. Pasalnya, sejauh ini belum dilakukan pemeriksaan laboratorium. Apalagi, kapan dan di mana korban digigit anjing, juga belum jelas. 
 
Terlepas masalah itu, kata Arjana, petugas sudah langsung mendata anggota keluarga dan kerabat bocah AA Yoga Arimbawa, yang pernah bersentuhan dengan korban tewas dugaan rabies ini. “Kita sudah memberikan VAR bagi 13 anggota keluarga dan kerabat korban untuk mengantisipasi penularan virus rabies,” jelas Arjana.
 
Sedangkan Ketua Komisi III DPRD Klungkung (yang membidangi masalah kesehatan), I Made Jana, mengimbau masyarakat supaya langsung berkordinasi dan memeriksakan diri ke Pusekesmas atau RS terdekat, jika digigit anjing. Sekecil apa pun lukanya, jangan anggap remeh gigitan anjing. 
 
“Kami juga meminta pihak terkait agar segera mengecek ke lokasi dan melakukan steriliasasi, guna mencegah penyebaran rabies lebih lanjut,” ujar Made Jana yang kemarin didampingi anggotanya, Ketut Sukma Sucita.
 
Sementara itu, Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr Gede Wira Sunetra, mengaku belum mendapat laporan terkait dugaan bocah 9 tahun tewas akibat rabies di Klungkung. Menurut Wira, pihaknya memang sempat mendapat SMS dari Dinkes Klungkung, tapi isinya terkait kecurigaan kasus gigitan anjing bulan Januari 2016. 
 
"Tadi (kemarin) dapat SMS dari Dinkes Klungkung, tapi itu terkait kecurigaan kasus gigitan anjing di bulan Januari. Untuk kasus dugaan tewas rabies ini, belum bisa dipastikan,” kata Wira saat dikonfirmasi NusaBali di Denpasar, tadi malam. Dia mengatakan, hingga saat ini korban tewas karena positif rabies di Bali tahun 2016 tercatat satu orang. "Korbannya asal Karangasem. Kalau tidak salah laporannya yang kami terima meninggal akhir Januari 2016," katanya.

Sekadar dicatat, setahun sebelumnya, wabah rabies di Bali menelan 16 korban nyawa selama 2015. Dari jumlah itu, terbanyak jatuh di Buleleng (6 orang tewas), disusul kemudian di Bangli (3 korban tewas), di Karangasem (2 korban tewas), dan Klungkung (2 korban tewas), serta di Badung, Gianyar, Tabanan masing-masing 1 korban tewas. Dua korban tewas rtabies di Klungkung tahun 2015 masing-masing Dewa Ayu Okta Puspitayanti, 11 (bocah SD asal Banjar Kaleran, Desa Bungbungan, Kecamatan Banjarangkan) dan I Gusti Ngurah Ari Krisna, 12 (bocah lulusan SD Banjar Kubu, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan). Korban Okta Puspitayanti meninggal 8 Juli 2015, sementara IGN Ari Krisna meregang nyawa di RSUD Klungkung pada 26 Juni 2015.

  • 08 Maret 2016
  • Dibaca: 581 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita